Salah satu warga terdampak, Ken Sari, menuturkan “Longsor terjadi Jumat sore sekitar pukul 17.00 WIB. Sebelum kejadian, saya sudah mengungsi terlebih dahulu ke Dieng karena tebing di atas rumah saya sudah muncul rekahan,” ujarnya.
Dampak dan Kondisi Terkini
Hingga saat ini, warga setempat masih bergotong royong membersihkan sisa material tanah yang masuk ke permukiman. Beruntung, tidak ada korban jiwa dalam peristiwa ini.
“Untuk korban jiwa tidak ada, namun beberapa warga mesti mengungsi karena tempat tinggalnya rusak dan berada di lokasi rawan,” jelas Muhayati, warga setempat, saat diwawancarai.
Selain pemukiman, sektor pendidikan juga terdampak serius. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SD Negeri Pranten 1 terpaksa lumpuh akibat ruang kelas yang kemasukan material longsor. Kepala Sekolah SDN Pranten 1, Joko Ujianto, menyatakan pihaknya masih memprioritaskan keamanan siswa.
“KBM belum bisa terlaksana karena siswa dan orang tua masih khawatir beraktivitas di sekitar lokasi bencana. Apalagi curah hujan masih tinggi, sehingga lereng Gunung Sipandu masih labil. Kami terus berkoordinasi dengan dinas terkait mengenai skema pembelajaran di situasi darurat ini,” pungkas Joko.
Pemicu Cuaca Ekstrem
Munculnya Siklon Luana di Samudra Hindia menjadi penyebab utama tertariknya massa awan dari perairan Laut Jawa menuju daratan. Hal ini memicu angin kencang dengan kecepatan mencapai 90 km/jam yang berhembus dari arah barat laut menuju tenggara.
.jpg)




Posting Komentar